PENYEMBUHAN DENGAN DOA

| | 0 komentar »

PDF Print E-mail
Friday, 17 April 2009 09:59
 
NIRMALA
(Mei 2005)


Berdoa yang efektif ternyata ada aturannya. Teknologi modern sangat membantu
membuat doa-doa kita secara ajaib lebih mudah dan lebih cepat terjawab.
.....

Larry Dossey, M.D seorangdokter dari Texas, Amerika, dalam bukunya Healing words: The Power of Prayer and The Practice of Medicine dan Prayer is Good Medicine mengatakan bahwa sudah banyak penelitian bersifat ilmiah yang dilakukan para ahli untuk mengetahui pengaruh doa dalam penyembuhan. Sebagian besar dari penelitian tersebut memperlihatkan bahwa doa memang memiliki efek penyembuhan. Tak heran jika kini doa menjadi bagian yang penting dalam pengobatan modern.
 
Masih menurut Dossey, seorang peneliti senior dari National Institute for Healthcare Research di Rockville, Maryland, bernama David B. Larson M.D., juga pernah meneliti hubungan antara sikap spiritual dan kesehatan. Menurut Larson, berdoa secara teratur membantu mencegah datangnya penyakit yang bersifat fisik dan mental. Juga membantu kita menghadapi penyakit secara efektif.

Masalahnya sekarang, doa yang bagaimana yang bisa membantu menyembuhkan atau mencegah datangnya penyakit? Karena diakui atau tidak, doa yang terus kita panjatkan ternyata tidak semuanya langsung dikabulkan. Atau kalau pun segera terkabul, ternyata tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Jadi jelasnya, bagaimana cara berdoa yang baik dan benar?

Terjawab tak selalu berarti langsung dikabulkan

Menurut Erbe Sentanu atau biasa dipanggil Nunu dari Katahati Institute, sebuah lembaga yang mengajarkan teknik berdoa yang efektif, ada aturan-aturan tertentu yang harus diikuti agar suatu doa bisa lebih cepat terjawab. Terjawab di sini maksudnya bisa bermacam-macam. Bisa saja seseorang dibelokkan dari apa yang dimintanya atau justru dihentikan sama sekali dari apa yang diinginkan. Terkadang seolah 'disuruh' menyempurnakan isi doanya dulu baru dikabulkan. Atau bisa juga secara instan langsung dikabulkan persis sesuai dengan yang diinginkan dalam waktu yang sangat singkat. Yang terakhir ini sering sekali terjadi pada mereka yang sudah mempelajari aturan berdoa yang efektif.

Mengenai ukuran dari efektif tidaknya suatu doa, Nunu menjelaskan bahwa hal itu langsung bisa dilihatdari perubahan yang terjadi dalam kondisi kesehatan atau kehidupan seseorang. Bandingkan saja kondisi kesehatan dan kehidupan orang tersebut ketika berdoa dengan cara yang lama dan setelah menggunakan cara yang efektif.

Tapi dengan semakin efektifnya doa seseorang, Nunu juga mengingatkan untuk semakin mewaspadai apa yang ada dalam pikiran dan dalam hati karena semuanya akan menjadi lebih mudah mewujud. Berdasarkan pengalaman dari mereka yang pernah belajar, antara apa yang diminta dalam doa dan realitanya semakin lama menjadi semakin dekat. Apa yang kemarin diminta bisa saja hari ini sudah didapat. Apa yang baru kemarin dipertanyakan, hari ini sudah terjawab. Sehingga pada akhirnya, mereka menjadi semakin yakin bahwa manusia memang diciptakan sebagai mahlukyang paling sempurna.

Mengenai teknik yang diajarkan Nunu, sebenarnya bukan sesuatu yang sangat asing bagi kita. Pada dasarnya, syarat dari doa yang efektif itu di antaranya adalah bahwa doa tersebut harus diucapkan dengan khusyuk, isi doanya jelas dan apa yang terucap secara lisan harus sesuai dengan apa yang dibayangkan dan apa yang dirasakan di dalam hati. Kedengarannya memang mudah, tetapi yang menarik disini adalah cara mempratikannya yang tidak biasa, sehingga hasilnya pun sering kali di luar dugaan.

Karena itu menurut Nunu, bila suatu saat kita merasa hidup tidak berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, mungkin perlu dicek kembali, apa saja doa yang telah lama mengendap di batin.

Mencapai khusyuk bisa dilatih

Khusyuk adalah kondisi yang rileks, fokus, dan penuh konsentrasi. Doa yang efektif adalah doa yang dipanjatkan dengan sikap khusyuk supaya bisa masuk ke batin bawah sadar. Doa tersebut juga harus berupa niat yang sangat kuat sehingga betul-betul menempel di batin bawah sadar. Mencapai kondisi khusyuk ini perlu dikuasai sebagai suatu keterampilan yang bisa didapat melalui latihan. Menurut Nunu, yang perlu dilatih dalam hal ini adalah otak, yaitu mengaktifkan meditative brain atau otak yang selalu berzikir (dalam keadaan meditatif).

Dalam meditasi, teknologi DigitalPrayer bisa membantu mempercepat memasuki keadaan meditatif.

Bagi orang yang terbiasa bermeditasi atau tenggelam dalam dzikir, mencapai kondisi khusyuk sangatlah mudah. Namun bagi yang masih sulit mencapai khusyuk, kini bisa menggunakan alat bantu yang disebut teknologi DigitalPrayer. Alat ini berupa CD brainwave management (pengaturan gelombang otak) berisi suara-suara alam seperti air mengalir, gelombang samudra yang naik turun, atau kicau- burung yang telah diracik menggunakan teknologi audio yang khusus didesain untuk menghasilkan kondisi-kondisi otak dan kesadaran tertentu. Mendengarkan CD ini secara teratur bisa melatih otak untuk bekerja sama antara satu sisi dengan sisi lainnya, sehingga bisa memasuki kondisi khusyuk secara cepat dan memiliki kemampuan konsentrasi yang lebih baik.

Tentunya latihan ini juga memunculkan kemampuan untuk melakukan relaksasi secara alami. Karena dalam kon¬disi yang sinkron dan seirama, otak akan mengeluarkan hormon endorphine lebih besar sehingga timbul rasa nyaman dan nikmat (hormon endorphine di dalam tubuh memang bekerja seperti morfin).


Isi doa harus jelas dan spesifik

Pada dasarnya doa adalah rangkaian pikiran yang kita kemas dan kita kirimkan, kata Nunu. Jika seseorang telah berhasil memasuki kondisi khusyuk yang dalam, maka segala yang terucap atau bahkan terpikirkan akan cenderung mudah mewujud. Doa menjadi nafasnya setiap saat dan setiap helaan nafas adalah doanya.

Padahal semua pengalaman, kejadian, keadaan, dan pekerjaan yang kita kerjakan selama ini, adalah kreasi dari alam bawah sadar terhadap pikiran. Segala sesuatu yang kita pikirkan, kita rencanakan, kita renungkan, pada akhirnya akan direspon oleh bawah sadar. Kalau itu kita lakukan terus menerus, maka batin bawah sadar akan bekerja dan membuahkan hasil. Maka hidup pun menjadi perwujudan doa. Hal itu berlaku pada pikiran yang baik maupun yang buruk. Karena batin bawah sadar bekerja seperti robot yang tidak mampu membedakan baik dan buruk.

Karena itu menurut Nunu, bila suatu saat kita merasa hidup tak berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, mungkin perlu dicek kembali, apa saja doa yang telah lama mengendap di batin bawah sadar kita. Bisa jadi ada program yang tidak mendukung yang tanpa sengaja masuk ke batin bawah sadar kita dan dari dalam 'menjegal' rencana-rencana hidup yang telah kita susun dengan baik. Dan akhirnya menjadi penyebab dari kegagalan, kekecewaan, dan ketidakbahagiaan hidup kita.

Sebagai contoh yang mudah adalah, bila penghasilan kita besar tetapi cepat sekali habis, uang tabungan pun tak pernah terkumpul banyak. Barangkali di batin bawah sadar kita secara tak sengaja pernah masuk program 'sulit menabung' atau 'membenci orang kaya'.

Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang kita buat sebaiknya disusun dengan benar. Aturannya yaitu harus berbentuk kalimatyang positif, berlaku sekarang, bersifat pribadi, persisten (sering diulang) dan dengan hasrat yang menyala. Dengan begitu, batin bawah sadar akan merespon dengan mudah sesuai dengan yang kita inginkan. Itu sebabnya orang bijak sering mengatakan bahwa alam semesta hanya akan membukakan jalan bagi orang yang tahu tujuan hidupnya.

Yang terucap dan yang terasa di hati harus sinkron

Apa yang ada di hati dan yang diucapkan ketika berdoa harus sejalan. Karena doa bukan hanya aktivitas mulut. Jadi misalkan Anda sudah berdoa dengan cara yang benar, tetapi tidak ada efeknya dalam kehidupan, barangkali inilah yang perlu diperhatikan. Jika Anda berdoa memohon sesuatu dengan penuh rasa takut disertai bayangan buruk dan kekhawatiran doa itu tidak akan dikabulkan, biasanya itu jugalah yang akan terjadi. Karena itu, bila menginginkan kesembuhan, sambil berdoa sebaiknya Anda membayangkan segala sesuatu yang bisa Anda lakukan di kala sehat. Dalam hati juga harus terpateri keyakinan bahwa Anda memang pantas dan bisa menjadi sehat kembali. Kalau yang dirasakan dalam hati justru bahwa penyakit Anda sudah sedemikian beratnya sehingga kecil kemungkinannya untuk sembuh atau bahkan tak mungkin sembuh, sama saja dengan mendoakan bahwa kemungkinan sembuh Anda kecil.

Rasa syukur adalah doa terbaik

Langkah yang satu ini barangkali tidak mudah dijalankan, tetapi sangat penting yaitu membentuk sikap yang selalu bersyukur. jika dalam doa kita selalu mengucapkan syukur, sama artinya kita menanamkan keyakinan pada batin bawah sadar bahwa semua keinginan kita telah terpenuhi.

Kita harus ingat bahwa batin bawah sadar kita tidak mampu membedakan antara imajinasi dan realita. Sekali bawah sadar menerima suatu gagasan, maka dia akan mulai bekerja untuk membuat segala yang kita pikirkan atau bayangkan menjadi suatu kenyataan. Batin bawah sadar bekerja selama 24 jam terus menerus. Ketika kita tidur pun batin tidak tertidur, tetapi bekerja mewujudkan segala hal yang kita rancang dan kita pikirkan. Dan hasilnya terkadang begitu tak kita duga sehingga seringkali kita namakan keajaiban. (N)

Kekuatan Sebuah Doa

| | 0 komentar »

Kekuatan Sebuah Doa

Seorang teman menceritakan kisahnya, saat sakit membawa dia benar-benar ke ujung maut, namun kekuatan doa menyelamatkannya.

"Bagiku doa adalah permintaan, karena ku yakin setiap doa akan didengarkan"

www.kmkinord.org/artikel_3.php

Jauh dari orang tua, jauh dari keluarga, itu yang pertama kali terpikir saat ku memutuskan untuk melanjutkan studi di Jerman. Ahh… toh suatu saat aku memang harus melalui saat-saat seperti itu, tidak masalah pikirku lagi. Akhirnya tanggal 31 Agustus tahun itu aku berangkat ke Jerman, semua berjalan lancar sesuai rencana. Teman-teman baru pun banyak kudapat, walaupun hanya satu yang orang Indonesia, maklum kota ku itu termasuk kota kecil di Jerman.

Hari itu, hari Kamis di akhir bulan September, aku merasa tidak enak badan, agak demam dan badan bentol-bentol merah. Yang petama kali ku jadikan kambing hitam adalah Oktoberfest, karena memang beberapa hari lalu badanku jadi merah-merah semua gara-gara terlalu banyak minum bir di acara itu, jadi aku kira ini adalah efek terusannya. Akhirnya aku tak terlalu ambil pusing, demam-demam sedikit biasalah, pikirku. Bahkan keesokan harinya aku masih sempat pergi jalan-jalan bersama teman-teman.

Hari Sabtu rupanya demamku semakin parah. Karena tidak ada dokter yang buka praktek hari itu, terpaksa aku pergi ke rumah sakit. Di sana oleh dokter jaga aku divonis terkena cacar, tetapi alih-alih diberi obat, aku hanya diberi surat rekomendasi ke seorang dokter spesialis kulit di rumah sakit lain yang letaknya sedikit di luar kota. Akhirnya dengan bersusah payah karena kondisi tubuh yang sudah lemah dan hanya berbekal selembar peta, tiba juga aku di rumah sakit rujukan itu. Ternyata dokter spesialis kulit yang aku cari tidak ada di tempat, kembali aku diperiksa oleh dokter jaga, keputusannya pun sama, aku divonis terkena cacar. Kali ini aku diberi obat tapi hanya semacam obat gosok kulit, bukan antibiotik.

Bukannya membaik kondisiku malah semakin lemah. Akhirnya hari Senin bersama teman aku pergi ke dokter lagi, kali ini diberi obat yang setahuku berdosis tinggi. Aku sangat berharap dengan meminum obat itu aku bisa cepat sembuh, karena sebenarnya program kuliah sudah dimulai dari minggu lalu dan minggu ini pun merupakan minggu yang penting bagiku karena akan banyak acara ekskursi ke pabrik-pabrik terkenal, acara yang sudah kutunggu-tunggu, bahkan sejak aku masih di Indonesia. Aku harus cepat sembuh pikirku. Keluarga di Indonesia sengaja tidak aku beri tahu tentang kondisiku disini, aku tidak mau membuat mereka kawatir.

Tapi harapan tinggal harapan, selama tiga hari kondisiku semakin memburuk, badan lemas dan kepala pusing kini ditambah dengan muntah-muntah, rupanya lambungku tidak kuat menerima obat dengan dosis setinggi itu. Hari Rabu aku pergi lagi ke rumah sakit untuk meminta rawat inap, karena kupikir disana aku akan lebih terawat. Tapi ternyata aku ditolak dengan alasan tidak ada kamar isolasi untukku. Sekembalinya dirumah kondisiku semakin parah, tidak ada makanan yang bisa masuk karena selalu termuntahkan lagi. Oh Tuhan tolong aku Tuhan, tolong aku, aku terus berdoa sambil menahan sakit, pikiranku melayang kemana-mana, keluargaku di Indonesia, teman-temanku, kuliahku, semua seperti berputar-putar cepat di kepalaku. Akhirnya tubuhku benar-benar sudah tidak kuat menahan rasa sakit, hari Rabu malam aku terjatuh pingsan di kamar, sendirian.

Teman-temanku tidak ada yang menaruh curiga karena memang sudah tiga hari aku hanya beristirahat di kamar. Tapi tidak dengan keluargaku di Indonesia, rupanya saat aku pingsan mereka sedang berusaha untuk menghubungiku, tapi karena tidak ada jawaban mereka menjadi curiga ada yang tidak beres denganku. Setelah berulangkali mencoba tapi tidak berhasil, kakakku teringat nama temanku disini yang juga orang Indonesia, sebut saja namanya Benny. Dengan bantuan Friendster kakakku berhasil mendapatkan nomor telepon Benny, dan segera menghubungi dia. Setelah mengetuk pintu kamarku tapi tidak ada jawaban, Benny langsung memanggil teman-teman yang lain dan Hausmeister untuk membantu membuka pintu secara paksa, dan mereka menemukan diriku yang tergeletak tak sadarkan diri. Saat itu adalah hari Jumat pagi, berarti telah lebih dari 36 jam aku terbaring disana.

Dari cerita temanku, aku tahu kalau waktu itu aku di bawa ke rumah sakit memakai ambulan bersirene, itu berarti keadaan sudah sangat gawat, karena ternyata ambulan di Jerman tidak boleh seenaknnya menyalakan sirene. Dan benar saja, oleh dokter di rumah sakit aku dinyatakan dalam kondisi koma. Dia mengatakan kalau dia ragu bisa menyelamatkan aku, tapi dia akan berusaha sekuat mungkin. Aku koma di ruang ICU selama dua hari.

Setelah mendengar kabar, mama dan kakakku langsung mengurus visa di Kedutaan Jerman, hari Selasa mereka tiba di kotaku. Menurut mereka sebenarnya pada hari selasa itu aku sudah sadar, tapi aku sendiri tidak ingat. Aku baru benar-benar sadar mungkin sekitar seminggu kemudian, kondisiku saat itu benar-benar mengenaskan. Karena lantai yang dingin, jaringan kaki rusak dan membusuk sehingga keluar cairan. Karena jaringan yang busuk itu, banyak racun bererdar di tubuh sehingga harus cuci darah. Karena tubuh lama tak mendapat cairan, ginjal tak berfungsi sehingga tubuh dan wajah bengkak, berbicara pun sangat sulit. Karena kaki kiri lama terjepit, banyak syaraf yang mati sehingga tidak bisa digerakkan. Banyak selang keluar masuk dari hidung mulut dan tubuhku, sungguh mengerikan waktu kemudian aku melihat fotoku sendiri.

Setiap hari aku hanya bisa terbaring di tempat tidur, sering aku menangis sendiri. Perasaan sedih, takut, bingung bercampur menjadi satu, mengapa aku bisa begini, bagaimana kalau aku lumpuh, bagaimana kuliahku, aku harus bagaimana… Untung keluarga selalu memberi dukungan, begitu juga dengan teman-temanku di sini, mereka bergantian datang menjengukku sambil terus memberi semangat. Bersama-sama mereka mengajakku untuk selalu berdoa, perlahan-lahan semangatku pulih, aku ingin cepat sembuh, aku ingin cepat bisa kuliah lagi.

Tapi untuk sembuh rupanya membutuhkan waktu dan kerja keras, setelah 26 hari di rumah sakit aku dirujuk pindah ke rumah sakit rehabilitasi. Disana setiap hari aku melakukan latihan untuk memperbaiki otot-otot tubuh, berbagai tes dilakukan untuk memeriksa fungsi-fungsi tubuh yang rusak. Untung saja tidak ditemukan kelainan apapun di otak, hal ini yang sebenarnya paling ditakuti karena selama aku pingsan tisak ada oksigen yang masuk ke otak. Selama masa rehabilitasi mamaku tetap selalu mendampingi, begitu pula dengan keluarga dan teman-temanku, mereka selalu mendoakanku.

Total aku menghabiskan waktu tiga bulan, baik di rumah sakit maupun di tempat rehabilitasi. Menurut dokter yang merawatku sejak awal, waktu tersebut termasuk sangat cepat, bahkan terus terang dia mengaku tidak percaya kalau aku bisa sembuh dan pulih seperti ini. Aku ingat persis kata-kata dia waktu aku keluar dari rumah sakit, "I couldn't believed with my eyes, when I saw you at the first time and now, that is the same person". Ya, jangankan dia, aku sendiri pun merasa bahwa ini adalah keajaiban, hanya keajaiban dari Tuhan yang bisa membuatku pulih, baik dari kondisi fisik maupun mentalku yang sebenarnya sangat jatuh. Sekarang kondisiku boleh dikatakan hampir 100% kembali seperti sediakala, hanya masih sedikit pincang dikaki kiri karena beberapa syaraf yang rusak, tapi itu pun baru terlihat bila benar-benar diperhatikan. Tapi aku tetap yakin dan percaya kalau Tuhan akan terus membimbingku sampai aku kembali sembuh total seperti semula.

Aku yakin aku bisa sembuh karena doa, doa yang tiap hari aku panjatkan bersama keluarga dan teman-temanku, Tuhan seperti diserbu oleh doa-doa mereka. Tapi aku ingat sebelum aku pingsan malam itu, aku sempat berdoa, doa yang sangat singkat, "Tuhan tolang aku", aku tahu doaku itu didengar Tuhan, dan karena doa itulah aku bisa selamat. Sejak itu aku percaya akan kekuatan sebuah doa, seperti apa pun doa itu, sesingkat apa pun doa itu, bagiku doa adalah permintaan, karena kuyakin setiap doa akan didengarkan. Terima Kasih Tuhan karena Kau memberiku keluarga dan teman-teman yang begitu mengasihi dan terutama karena Kau telah mendengar semua doa-doaku.

Diceritakan kembali oleh Erdinal Hendradjaja
(C) Mei 2006